Gema membaur dalam rasa.
Mengikis setiap satuan rindu yang terpadu dalam asa.
Di bawah keteduhan jiwa, dan di hentak raga yang berselang renta.
Tak mampu lisan ini, tuk ucap sederet kasih yang tertata dalam vas cinta
berdaun bahagia.
Yang telah tertanam beribu tahun tak tersisa.
Dalam letih dan penatnya hari yang kau punya, Bunda.
Dalam bayang yang tertinggal.
Kau tersenyum dalam celoteh hari yang tak mengenal.
Antara peluh dan bising suara yang terlontar.
Guna tawa masa kecil yang indah dalam buai berpijar.
Bunda...
Hangat ucap mu yang mengiringi dalam kedewasaan.
Tak pernah patahkan harap dan semangat pengorbanan.
Melainkan, sanjungan yang bangkitkan mimpi di setiap helaan.
Hingga kini, ku berdiri di pelataran kasih mu Bunda.
Meskipun tak dapat gantikan peluh mu, di setiap tetes yang mengalir.
Do’a ku kan berkulum, dalam tengadah tangan yang tak kan pernah usai.
Peluk Cinta ku,
Untuk mu Bunda.

0 komentar:
Posting Komentar